3 May 2015



Berani berbisnis? Adalah pertanyaan sekaligus tantangan simple tapi kebanyakan orang justru perlu pikir panjang untuk menjawabnya. Kali ini tim SIJ mencoba membedah suatu komunitas wirausaha atau entrepreneur yang memiliki visi misi berbagi dalam kelimpahan. Sangat mulia bukan, mari kita simak bersama informasi selengkapnya.
Masih sama dengan figur entrepreneur muda Jogja pemilik Colorful Photography, Danto Adityo yang juga merupakan Ketua Komunitas Tangan Di Atas (TDA) Jogja sekaligus narasumber liputan kali ini. Tangan Di Atas (TDA) adalah sebuah pergerakan pengusaha muda menengah bisa disebut seperti Usaha Kecil Menengah (UKM) yang gemar berbagi antar sesama anggotanya, seperti berbagi ilmu, informasi, cerita pengalaman bisnis. TDA bukanlah sebuah oragnisasi resmi dengan kepengurusan yang mengikat, tetapi lebih kepada sebuah wadah bagi pengusaha di Indonesia agar bisa kompak berbagi rejeki, saling share pasar, dan bareng-bareng maju. Fokusnya adalahnya agar Indonesia bisa menjadi negara lebih maju dari negara-negara di Asia. Prinsipnya adalah bahwa di dalam TDA para pengusaha menyadari gak ada bisnis yang saling menjatuhkan tetapi saling berbagi.
Lebih lanjut Mas Danto menjelaskan awal berdirinya TDA pusat di Jakarta sekitar 6 tahun yang lalu dari sekelompok orang yang suka ngeblog, salah satunya blog yang ditulis oleh salah satu pendiri TDA, yaitu Badroni Yuzirman (http://www.roniyuzirman.blogspot.com/). Isi blog tersebut menurut sebagian orang cenderung memprovokasi pembacanya untuk menjadi pengusaha atau TDA. Kemudian, dari para pembaca blog tersebut tercetus ide untuk membuat pertemuan dalam bentuk talkshow dengan menghadirkan Haji Ali, salah satu tokoh sukses yang sering diceritakan di blog tersebut. Tanggal 12 Januari 2006 adalah tanggal diadakannya talkshow tersebut yang dihadiri oleh sekitar 40 orang bertempat di Restoran Sederhana Rawamangun, Jakarta Timur. Dari talkshow itulah diperkenalkan istilah Tangan Di Atas yang diperluas tafsirnya menjadi pengusaha atau pedagang, sedangkan Tangan Di Bawah adalah karyawan atau pegawai.
Kemudian mereka mulai membuat milis TDA. Di milis tersebut mereka kemudian bergabung dan saling sharing mengenai interest di dunia bisnis, setelah itu kumpul-kumpul atau Kopi Darat (Kopdar). Berawal dari Jakarta kini komunitas TDA telah menyebar hampir di 25 wilayah di seluruh Indonesia. “Untuk TDA Jogja sendiri terbentuk sekitar 3 tahun yang lalu, awalnya mulai dari kumpul-kumpul pengusaha di Jogja dan berangkat dari semangat positif TDA pusat (Jakarta) setelah itu langsung dibuat kepengurusan TDA di Jogja.”, begitu kata Ketua TDA termuda dari ketua TDA di wilayah lainnya ini.
TDA merupakan komunitas yang unik karena pada prinsipnya sekali lagi para anggota TDA memiliki semangat keberlimpahan, semangat yg jarang dimiliki oleh pengusaha lainnya. Sehingga dengan adanya orang-orang ini, harapannya semakin banyak menumbuhkan dan mendorong lahirnya wirausahawan yang tangguh. Nilai-nilai dasar TDA sendiri adalah berkelimpahan, seorang wirausahawan yang memiliki jiwa berkelimpahan akan selalu bersyukur dan akan berbagi dengan sesama. Berbagi dalam bentuk apa saja yang bermanfaat, tidak hanya materi tetapi juga ilmu, link, waktu, semangat, pengalaman bisnis, dan lain-lain.
Kegiatan di TDA sendiri beragam mulai acara wajib yang diikuti oleh anggotanya hingga acara yang diadakan secara rutin. “Sebulan sekali ada acara wajib semua anggota berkumpul, ada dua jenis yaitu Kopdar dengan mengundang satu pembicara seperti talkshow, dan E-talk sejenis diskusi terbuka secara bergilir oleh sesama anggota. Untuk acara rutinnya adalah Mastermind (MM) dan Kelompok Mentoring Bisnis (KMB).”, kata Mas Danto. Keduanya merupakan suatu diskusi bedanya KMB merupakan diskusi yang didampingi oleh mentor dengan beranggotakan 5-8 orang.”Idealnya semua diskusi itu KMB tetapi karena untuk di Jogja kurang mentor jadi ada juga Mastermind (MM).”
Nah, bagi yang ingin bergabung kata Mas Danto “Cukup follow Twitter kami di @tdajogja dan like Fan Page FB TDA Jogja, lalu cukup konsisten datang dan aktif di acara-acara TDA. Orang-orang yang aktif dan sering ikut acara sudah kami anggap anggota.” Kini anggota TDA Jogja ada sekitar 100an orang yang aktif mengikuti Kopdar dan E-Talk. “Kebanyakan anggota TDA sendiri adalah mahasiswa sehingga banyak start up”, Ungkap Mas Danto
Terakhir, sebagai wirausaha yang terbilang sukses di usia muda, Mas Danto memberikan sedikit tips bagi kawan SIJ yang mau memulai usaha, yaitu “Carilah passion anda, lalu segeralah take action! Jangan kebanyakan mikir atau berencana, karena ketika kita sudah memulai lalu kita dihadapkan pada suatu masalah, solusi-solusi pun akan kita dapatkan seiring proses yang sedang kita lalui. Jangan khawatir!”. Lebih lanjut Mas Danto mengungkapkan, “Wirausaha itu berasal dari kata Wira= Super dan Usaha. Jadi wirausaha adalah usaha yang dilakukan secara super dan doble seperti plesetan dari kepanjangan TDA sendiri yaitu Take Double Action”. Terakhir pesan dari Mas Danto kepada kawan SIJ, “Menjadi wirausaha itu yang terpenting adalah Jujur, bisa memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar, masyararakat, bangsa dan negara”.
Kesimpulannya kalau ingin memulai usaha jangan takut untuk mencoba, jangan terlalu resah berpikir akan kemungkinan-kemungkinan buruk yang belum pasti. Tetapi perlu dicatat bahwa kata jangan kebanyakan berpikir bukan berarti kita tidak memikirkan sama sekali tentang rencana bisnis (business plan). Suatu usaha yang berhasil juga didukung oleh rencana yang matang. So, selamat mencoba menjadi wirausahawan muda yang selalu berbagai terhadap sesama, seperti pepatah Tangan Di Atas lebih baik dari Tangan Di Bawah.
Narasumber: Danto Adityo Laksono
Jabatan: Ketua TDA Jogja periode Januari 2012 – Juli 2013
Twitter:@dantoadityo / @tdajogja
Website Pribadi/Blog: dantoadityo.com / tdajogja.org
Study In Jogja : Elita Yunanda

Posted on Sunday, May 03, 2015 by Unknown

No comments




Apa yang bisa kita lakukan dengan uang receh? Komunitas Yogyakarta Coin A Chance (YCAC) menjawabnya dengan menjadikan uang receh sebagai beasiswa bagi adik-adik yang punya semangat belajar namun orang tuanya memiliki keterbatasnan dalam hal ekonomi.
Berawal dari Adrian Dwi Antoro yang melihat kegiatan teman-teman Coin A Chance di Jakarta pada akhir tahun 2008, membuatnya tertarik untuk membuat gerakan serupa di Yogyakarta. Akhirnya pada awal tahun 2009, Anto dan teman-temannya mulai melakukan gerakan ini di Yogyakarta. Dari satu anak yang bisa dibantu, sampai sekarang ini sudah 18 anak yang dibantu biaya pendidikannya.
Untuk mengumpulkan uang receh, mereka mengadakan Coin Collecting Day, hari dimana para coiners berkumpul untuk bersama-sama menghitung uang receh yang berhasil mereka kumpulkan, sharing perkembangan adik asuh, dan terkadang mereka juga mengajak adik asuh datang ke Coin Collecting Day ini. Kegiatan ini biasanya sebulan sekali diadakan di Bundaran UGM pada setiap akhir bulannya.
Selain Coin Collecting Day, YCAC juga bekerjasama dengan beberapa tempat di Jogja, antara lain yaitu Kedai Kopi Yogyakarta, Radio Prambos Jogja, Zupparela Café, Cokelat Roso, Kedai Aplukat dan beberapa tempat lainnya. Disana ditempatkan celengan yang ditaruh didekat meja kasir sehingga orang yang membayar dan tidak mau membawa kembalian uang recehnya pulang, bisa memasukkan kedalam celengan tersebut.
Pada tiap semester YCAC mengadakan kegiatan Coin Dropping, dimana mereka menyalurkan langsung uang dari para coiners tersebut ke sekolah. Di pilih langsung ke sekolah karena agar jelas penggunaannya dan dapat dipertanggungjawabkan.
Adik asuh yang mendapatkan bantuan dari YCAC dipilih dari keluarga yang mengalami kesulitan secara ekonomi. “Tapi dibalik itu yang penting semangatnya. Kita tidak mencari yang pintar, kita mencari yang bersemangat karena bagi kami pintar/cerdas bisa tumbuh sendiri kalau anaknya punya semangat. Kita juga lihat dari support orang tua.” Tutur Fanbul, pegiat komunitas YCAC.

Ardi Irwansyah, salah satu pegiat komunitas YCAC yang lain, berharap semakin banyak adik asuh yang bisa dibantu, semakin banyak teman-teman yang bergabung, dan Coin A Chance semakin berkembang diberbagai kota. “Semoga spirit2 sederhana seperti ini dapat terus terjaga. Karena kadang mahasiswa banyak berteriak tapi sedikit untuk bertindak.” Fanbul menutup perbincangan.
Website : www.coinforall.com
Facebook : Yogyakarta Coin A Chance
Twitter :@CACjOGJA
Narasumber : Fanbul dan Ardi Irwansyah
Study In Jogja : Muhammad Tibyan

Posted on Sunday, May 03, 2015 by Unknown

No comments



Tim Study In Jogja (SIJ) kembali menghadirkan komunitas yang menarik nih, kali ini tim SIJ jalan-jalan ke kampus AMIKOM, dan bertemu dengan salah satu UKM di AMIKOM, yaitu KOMA (Komunitas Multimedia Amikom). Untuk lebih lengkap tentang KOMA, yuk simak liputan tim SIJ bersama Purna (wakil ketua KOMA), Moh Rizqon (Bagian event), dan Siti (Bagian Kehumasan)..
 
Dari kapan KOMA ini hadir?
Kalo dari surat keputusan kampus itu 27 Mei 2001 tapi setelah periode periode itu nah aktifnya baru 7 tahun ini.
Apa Tujuan Koma ?
Kalo visi misinya itu menjadi komunitas terbaik se-Yogyakarta tapi selama berkelanjutan, kita ingin kmeningkatkan visi misi ini ketingkat nasional juga. Kalo buat event ya mulai ranahnya ke nasional.
Sejauh ini, berarti khusus anak AMIKOM saja?
Ya khusus temen-temen di AMIKOM saja, sistem registrasinya saat expo mahasiswa baru. Sistem registrasinya kan saat eskul jadi banyak pilihan UKM. Nah kita registrasinya cuma bisa saat itu, ada biaya administrasi nanti akan diberi kartu anggota. Berlakunya 1 tahun kepengurusan.
Di KOMA ada kegiatannya apa aja?
Di sini ada 4 jurusan. Yaitu grafis, web design, broadcasting film sama animasi visual effect. Ini mereka bebas pilih mau fokusnya kemana. Mereka bebas memilih apa aja walaupun pilihan jurusan kuliahnya bukan itu. Nanti akan ada seminar dan workshop.
Event – event apa aja yang selama ini diadakan oleh KOMA?
Eventnya kalau untuk anggota baru kita ada temu besar atau first meeting, terus ada makrab (malam keakraban). Lalu ada seminar – seminar multimedia mencakup 4 jurusan tadi. Tiap hari sabtu kita juga ada Coaching Clinic. Itu semacam pelatihan-pelatihan, untuk acara puncaknya itu ya TEBAS (The Best Annual Multimedia Show). TEBAS itu acara tahunan dari kami dan sudah menasional. Mencakup beberapa lomba seperti fotografi, design poster dan film. TEBAS itu kan event nasional, kita juga punya event lokal seperti workshop dan seminar. Tapi kita pernah ngadain seminar waktu itu tentang desain grafis itu juga pesertanya banyak dari luar kota Jogja juga. Event-event KOMA bisa juga di cek di www.koma.or.id .
Sejauh ini anggota KOMA ada berapa si?
Kalo anggotanya banyak, rata – rata dari tiap angkatan 400 sampai 500 orang. Tapi kalau yang aktif hanya sekitar 200 orang secara keseluruhan.
Bagaimana kalian sebagai pengurus berusaha mensolidkan team kalian?
Ya kalo itu yang selama ini yang kita lakukan ya ngadain kegiatan. Ini semua anggota kita libatkan, tapi sebenernya kita kembalikan ke anggotanya lagi yang mau aktif atau tidak. Kalau dari sendirinya enggak ya mau gimana? Kalau dari kita si kita selalu terbuka karena tiap minggu kita selalu punya kegiatan.
Kenapa kalian tertarik masuk KOMA? Waktu masuk AMIKOM kalian langsung wah KOMA seru ni?
Karena KOMA itu satu-satunya komunitas multimedia yang lengkap, ya ada perfilman, ya ada web design. Terus waktu perkenalan KOMA, waktu itu dikenalin film, waktu itu langsung tertarik Waktu ospek itu kan ada pengenalan Ukm – Ukm. Nah menurut saya pribadi tu koma tu beda. Organisasi koma tu menampilkan detail, koma tu apa si? Dari video profil koma sendiri itu menayangkan ada ucapan ulang tahun dari artis – artis, nah kalo ikut koma itu bisa mempelajari semua, contoh kita masuk di divisi broadcast tapi kita juga bisa mempelajari yang lain.
Apa saja nih prestasi Koma?
KOMA pernah memboyong Boyong 5 dalam ketagori Trailer Terbaik, Soundtrack Terbaik dan Aktor Terbaik, Poster Terbaik dan Film Favorit, dan Trailer Terbaik pada Piala Fiagramotion #4 sebuah rangkaian acara kompetisi film pendek dan talkshow yang diselenggarakan oleh BSO Club Film Anak Grafika FT UGM.
Harapan dari KOMA ke depan gimana ni?
Go International ya. Lalu mengadakan temu komunitas multimedia se Yogyakarta. Seperti mengumpulkan komunitas multimedia di Yogyakarta, lalu kita adakan kegiatan, seperti malam keakraban.
Untuk teman-teman yang ingin selalu update info tentang event multimedia yang diadakan KOMA bisa cek di www.koma.or.id atau @media_KOMA

Posted on Sunday, May 03, 2015 by Unknown

No comments



Heiii Yandro, sapaan itu pasti sudah akrab di telinga teman-teman di linimasa twitter, khususnya pencinta android. Ya Yandro panggilan akrab dari Komunitas Android yang ada di Jogja. Namun, jika kita baru mendengar, seakan asing dan mungkin kita berpikir Yandro adalah nama orang.
Yogya Android Community (YAC) adalah kumpulan teman-teman yang menyukai android. Tidak harus punya handphone dengan OS Android, cukup suka dan mau belajar bisa berkumpul dengan YAC. YAC terbentuk awal Januari 2011, berawal dari keisengan ingin berkumpul sesama pengguna android dan mencari teman baru. Namun tak hanya itu, menurut Irfan dan Reza,  sering bertambahnya usia dari komunitas YAC, komunitas ini juga berfungsi untuk saling belajar dan membantu.
“Supaya bisa belajar bareng dan jika ada kerusakan bisa ada yang nanganin. Bisa saling membantu dalam upgrade juga, karena perkembangan Android sebagai sebuah software sangat cepat. Dengan berkumpul setiap 2 minggu sekali diharapkan pengguna android terutama di Jogja dan sekitarnya, nantinya juga bisa mengupgrade sekaligus memperbaiki jika ada kerusakan. Selain itu bisa juga berbagi cara meningkatkan performa gadget android yang berharga 1-2 juta bisa sebanding dengan 3-4 juta-an, Bagaimana ketika gadget kita dengan OS android yang standart, diinstal sekitar 25 aplikasi performanya tidak turun. Disinilah kita berbagi ilmu dan kebersamaan.” Begitu jelas Reza yang juga didukung oleh Irfan.
Sejauh ini kebanyakan anggota YAC memang mahasiswa walau tak sedikit juga yang sudah bekerja dan bahkan ada beberapa yang masih pelajar. Selain itu komunitas robot hijau ini rata-rata para laki-laki, menurut Irfan ini dikarenakan saat kopdar itu biasanya malam hari ya jadi kebanyakan anggota cowok, biasanya kalau yang cewek ikut, ya jam 9 malam, mereka  sudah pulang.
Perkembangan komunitas ini lumayan cepat, tercatat ribuan orang sudah menjadi anggota group facebook Yogyakarta Android Community. Hal ini tentunya berdampak pada jumlah anggota saat Kopdar yang semakin bertambah setiap berjumpa. Pada awal berkumpul waktu itu hanya  4 sampai 5 orang, sekarang bisa sampai puluhan orang.
YAC sendiri tidak mempersulit proses keanggotaan, tinggal add group YAC di facebook. Di sana anggota bisa bergabung dan mendapatkan informasi tentang YAC termasuk jadwal Kopdar.  Nantinya waktu kumpul, yang datang biasanya akan dilakukan absensi untuk pendataan.
Jika ada teman-teman di Jogja yang punya gadget android atau memiliki interest dengan software robot hijau ini, silahkan kunjungi www.android-jogja.com untuk info info menarik seputar android. Bisa juga langsung bergabung di group facebook YAC atau follow @yogyandroid. Komunitas YAC ini berkumpul setiap 2 minggu sekali, biasanya jika awal bulan hari Rabu dan akhir bulan hari Sabtu. Pilihan tempat mereka sering di cafe-cafe, biasanya di Semesta Kotabaru.
Tak cukup dengan gathering saja, YAC juga mempunyai kegiatan lain untuk berbagi informasi, khususnya android.  “Yang dilakukan tak hanya gathering saja, banyak hal bermanfaat, diantaranya seminar “smartphone feature” itu bulan Maret lalu yang bekerjasama dengan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Bisa mengumpulkan sekitar 250an peserta, waktu itu kami bersyukur, lalu kami juga mengisi acara sebagai narasumber di Sanata Dharna. Ya semoga YAC semakin dikenal dan banyak yang bergabung, bisa membuat seminar nasional juga tentunya” jelas Irfan dengan wajah sumringah.
Narasumber : Irfan (@irfun17) dan Reza (@ezzadeassasin)
Kontributor Study In Jogja : Aziz Ngashim dan Karina Erika

Posted on Sunday, May 03, 2015 by Unknown

No comments



Hijab, kini tidak lagi didominasi oleh ibu-ibu pengajian, saat ini Hijab bisa dibilang telah bertransformasi di setiap celah aktivitas Muslimah. Tidak sulit menemukan seorang wanita mengenakan jilbab atau Hijab. Mulai dari karyawan, atlet olahraga, mahasiswi atau pelajar hingga jurnalis dengan segala dinamikanya. Mereka tidak ragu lagi untuk menunjukkan eksistensinya sebagai seorang Muslimah.
Demikian juga di Kota kita tercinta, Yogyakarta, ada sebuah komunitas, yaitu Hijabers Community Yogyakarta (HCY). Komunitas ini  telah menyamakan visi dan misi bersama komunitas Annisa Bandung, dan Hijabers Community Jakarta. Komunitas yang sebelumnya bernama Hijabi YK, terbentuk ketika pertemuan beberapa  muslimah di twitter yang ingin ngumpul bareng sesama hijabers, hingga akhirnya komunitas ini diresmikan 13 Februari 2011 dan telah mempunyai susunan komite yang tetap yang mengemban amanah selama 5 tahun. Kini HCY telah beranggota sekitar 2000 members dengan hampir 5000 followers di akun twitter @HijabersCommYOG  dan sekitar 14.000  fans di fanspage akun facebook “Hijabers Community Yogyakarta.
Kina, salah satu pendiri HCY sekaligus Ketua HCY menuturkan HCY  dibentuk sebagai forum sharing sesama Hijabers untuk bersama memantapkan hati berhijab dan berbagi cerita tentang penolakan lamaran kerja dikarenakan hijab, kemudian Hijab dibilang kampungan dan lain-lain. Namun tak hanya sampai disitu, karena HCY mempunyai kegiatan yang sangat bervariasi, yaitu tutorial hijab, photography, seminar kanker payudara, seminar kanker serviks. fashion show untuk mengenalkan trend busana jilbab,  kunjungan ke panti asuhan yang rutin dilaksanakan hampir 2 atau 3 bulan sekali,  hingga kegiatan khusus anggota diantaranya adalah Sunday Fun yang diadakan setiap 2 minggu atau sebulan sekali. Seriring berjalannya waktu, tawaran kerjasama juga banyak menghampiri komunitas ini. Seperti waktu itu ada tawaran aksi damai bareng Sri Sultan dan partisipasinya di Jogja Fashion week.
“HCY bukan sekedar hanya komunitas fashion, karena di setiap acara, kita selalu menganjurkan dresscode dengan jilbab  menutup dada, memakai baju longgar, dan tidak boleh mengenakan celana jeans ketat. Diharapankan juga komunitas ini berlanjut terus dan bisa menginspirasi perempuan muslim di Jogja. Jangan takut bereksplorasi dengan jilbab. Karena jilbab tidak menutup kita untuk tetap modis., Pakailah senyaman mungkin. PD aja, dan TERJAAAAANG” begitu ungkap Kina dengan senyum khasnya saat di jumpai Tim SIJ di House of Dina.
Untuk para hijabers yang ingin bergabung, cukup mudah, ya penting sudah memantapkan diri menggunakan jilbab, sudah bisa masuk menjadi anggota HCY.  Namun, untuk menjadi member resmi, harus mendaftarkan diri di BRI Syariah atau datang langsung ke acara HCY. Biaya administrasi yang kenakan senilai Rp 100.000. dengan perincian Rp50.000 saldo, Rp 25.000 asuransi, Rp 25.000 ribu lagi biaya administrasi. Nantinya member HCY akan mendapatkan kartu BRI syariah dengan logo Hijabers Community dan bisa mendapatkan discount di tempat-tempat  tertentu, misalnya di butik House of Dina, Snap Café, Warung Penyetan dan lain-lain.
Kontributor Study In Jogja : Laili Wirduna dan Karina Erika

Posted on Sunday, May 03, 2015 by Unknown

No comments



Gamelan !!! Apa yang pertama kali terlintas di pikiran kita saat mendengar kata tersebut? Mungkin pikiran kita langsung tertuju pada musik tradisional, musik yang ada hanya pada saat pagelaran wayang, atau musik khas Jawa. Tunggu dulu, saat kita melihat komunitas yang satu ini, tentunya kita akan dibuat tercengang. Ada satu hal yang unik dari komunitas ini, yaitu  kreasi dan inovasi yang membungkus gamelan menjadi sesuatu yang berbeda. Mari kita kenalan yuk dengan Komunitas Gamelan Gayam 16.
Nama Gayam 16 sendiri diambil karena lokasi base camp pertama mereka di Jalan Gayam nomor 16. Jadi terbentuklah nama komunitas Gayam 16. Simple ya? Sedangkan awal muasalnya, salah satu tokoh seni asli Jogja yang kiprahnya lebih di kenal di musik gamelan, bernama Sapto Raharjo. mengadakan Festival Kompetisi Gamelan Kontemporer pada tahun 1994.
Tujuan Sapto adalah ingin lebih mendekatkan gamelan kepada masyarakat khususnya generasi muda. Hingga akhirnya muncul respon positif dari berbagai Negara seperti Eropa, Amerika, Australia, India, dan lain-lain. Sehingga beliau merasa terdorong untuk mengadakan event yang berlanjut tentang gamelan.
Puncaknya tahun 1995, Sapto Raharjo membuat Yogyakarta Gamelan Festival yang merupakan media untuk tempat berkumpulnya pemain gamelan dan pecinta gamelan dari seluruh dunia yang di pusatkan di Yogyakarta. Namun, pada tahun 2009 Sapto Raharjo meninggal dunia, dan Yogyakarta Gamelan Festival tetap harus berjalan, Gayam 16 lah yang setiap tahunnya meneruskan event international ini tetap dengan nama Yogyakarta Gamelan Festival hingga di tahun ke 17 nya ini.
Komunitas yang saat ini menempati base camp di Jalan Bausasran DN III/970, Yogyakarta selalu mengadakan berbagai kegiatan seperti kegiatan tahunan Yogyakarta Gamelan Festival ( YGF ) dan Gamelan Gaul. Ada juga kegiatan yang dilakukan lainnya seperti Road to School or Community, selain itu pelatihan antar teman. Semua itu dilakukan dalam rangka gerakan budaya yang salah satunya lewat gamelan.
“Untuk anggota di sini tidak organisatori secara ketat tetapi datang dan pergi. Akan tetapi  komunikasi tetap berjalan. Dari awal berdiri berjumlah ratusan tetapi yang aktif ada 40 – 50 orang. Untuk mempererat solidaritas setiap tahun, yang terpenting adalah semangat dan pemahaman. Di sini ada organisasi sistematik juga yaitu Management Festival, HRD, Pendidikan dan Entertaiment, Operasional, Finance, Seni, Marcendence. Itu semua harus sinergis.” ungkap salah satu koordinator Gayam 16 , Mas Joko.
Untuk kalian yang mau jadi anggota komunitas ini, gampang, hanya ada 2 syarat yaitu “Datang dan Siap jadi saudara”. Latar belakang tidak berpengaruh, yang penting kebersamaan. Langsung saja bisa daftar lewat Twitter @gayam16,  Facebook Gayam 16 Community, atau sms ke nomer 0274-7477717.
Bagi Mas Joko, hambatan – hambatan yang di temui di Gayam 16 ini justru di jadikan kekuatan dan pembelajaran bersama untuk menuju tingkat yang lebih baik lagi. Kita juga patut bangga menjadi tuan rumah. Tetapi hal itu belum cukup, mari kita pelajari dan jaga terus kekayaan budaya negeri ini. Semoga Gayam 16 kedepan memiliki keyakinan atau impian melakukan sesuatu untuk orang lain, minimal untuk diri sendiri. Sehingga dari sesuatu yang kecil – kecil itu bisa mendapatkan keuntungan yang bernilai besar dan bermanfaat. Karena pemahaman yang ada di Gayam 16 adalah “Ini titipan anak cucu kepada kami bukan sebaliknya.“
Kontributor Study In Jogja : Ispi Setiawati

Posted on Sunday, May 03, 2015 by Unknown

No comments



Koalisi Pemuda Hijau Indonesia atau KOPHI berdiri untuk menjadi wadah bagi anak muda pelajar dan mahasiswa yang ingin menjadi bagian dari solusi masalah perubahan iklim. Diharapkan mereka dapat bergerak untuk melakukan sebuah tindakan secara kolektif dan berkelanjutan demi terciptanya lingkungan Indonesia yang lestari.
Rida, salah satu pengurus KOPHI Jogja menceritakan jika awal mula KOPHI Jogja berdiri pada tanggal 22 November 2011. Saat Kongres Nasional di President University Jakarta dan terpilih koordinator untuk mengurusi masing – masing provinsi di Indonesia. Di Yogyakarta sendiri terpilih atas nama Gumilang Satriyo Nugraha. Sehingga pada bulan Desember 2011 di Yogyakarta mengadakan open recruiment sehingga terpilih 39 orang, yang menjabat di organisasi selama 1 tahun.

Bagi yang ingin bergabung syaratnya mudah, yaitu menulis keinginan bergabung dan essay tentang masalah lingkungan di Yogyakarta beserta solusi untuk penanganannya dan yang terakhir nanti akan ada wawancara. Akan tetapi bagi yang ingin bergabung menjadi pengurus dan anggota tidak bisa langsung sewaktu – waktu, ada periode tertentu setiap tahunnya. Jangan berkecil hati, kamu tetap masih bisa bergabung menjadi volunteer.
“Tidak ada batasan umur untuk bergabung di komunitas KOPHI in, akan tetapi segmentasinya hanyalah mahasiswa dan pelajar di Yogyakarta. Tempat publikasi KOPHI melalui promosi blog dan twitter @KOPHIyogya.” ujar Rida, salah satu pengurus KOPHI Jogja.
Sebagai contoh di tahun ini KOPHI memiliki program Green Heroes, X – Code for Yogya,  yaitu sebuah program kerja Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI) Yogyakarta yang bersifat sustainable. Bertempat di kawasan Kali Code, program ini dimaksudkan untuk memberdayakan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia di sekitar Code. Selain program tersebut KOPHI mempunyai klenting – klenting Millennium Development Goals ( MDGs ).
Tujuan komunitas KOPHI juga diarahkan agar dapat menjadi sumber informasi bagi pemuda-pemudi Indonesia pada umumnya terkait isu perubahan iklim dan lingkungan hidup. Serta keinginan untuk lebih bisa merangkul mahasiswa dan pelajar yang berada di Yogyakarta khususnya. Diharapkan dengan terbentuknya KOPHI, NGO (Non-government Organization) dan komunitas peduli lingkungan dapat saling berbagi pengalaman, ide, dan masukan yang berkaitan dengan lingkungan.
Selain menjadi forum komunikasi antara mahasiswa serta pelajar di Yogyakarta pada khususnya yang mempunyai kepedulian terhadap isu perubahan iklim melalui website KOPHI dan pertemuan-pertemuan yang di adakan, KOPHI juga hadir sebagai fasilitator dalam pengembangan kapasitas mereka melalui workshop, training, dan seminar yang bekerjasama dengan NGO (Non-government Organization) dan komunitas-komunitas hijau.
Untuk menjaga kekompakan TIM KOPHI sering mengadakan perkumpulan di luar program dengan main dan nongkrong bareng. Sehingga bisa sewaktu-waktu share. Hambatan yang di temukan di komunitas ini adalah komunikasi serta integritas. Karena berbasic pelajar dan mahasiswa yang mempunyai kesibukan di akademi juga tentunya. Penggalangan dana KOPHI selain dapat dari sponsor melalui ngamen bareng dan jual bunga.
Pesan untuk pelajar dan mahasiswa dari KOPHI Yogyakarta, karena lingkungan hidup adalah segalanya maka kita menghindari makanan yang memakai plastik. Bukan hanya dengan  menanam pohon tetapi tidak ada perawatan yang optimal. Kita bisa dengan menerapkan hal lain di kehidupan kita.
Kontributor Study In Jogja : Ispi Setiawati

Posted on Sunday, May 03, 2015 by Unknown

No comments



Bungkus!!! Itulah salah satu kalimat yang sering dilontarkan oleh beberapa sineas atau orang yang bekerja di dunia perfilman. Ngomong-ngomong masalah film, di Jogja ada komunitas film independent a.k.a film indie namanya Pabrik Film. Terdengar dari namanya gak salah kalo komunitas yang satu ini memang concern untuk produksi film, terutamanya film pendek.
Awal berdirinya komunitas Pabrik Film ini secara resmi pada bulan Oktober 2011. Menurut Mas Pandhu, salah satu founding father-nya, Pabrik Film dibagi menjadi dua divisi besar, yaitu Divisi Produksi dan Divisi Kreatif. Divisi Produksi memiliki Jobdesc yang lebih berhubungan dengan klien, ngomongin kontrak, masalah budget, legal, dan lain-lain. Sedangkan Divisi Kreatif terdiri dari tim yang bertugas untuk meramu atau merealisasikan project dari tim produksi, seperti membuat gagasan, konsep, hingga detail film. “Misal, tim SIJ ingin membuat film bertemakan promosi tentang Jogja maka yang mengurusi dan berhubungan dengan deal antara SIJ dan Pabrik Film adalah Divisi Produksi, sedangkan pengerjaan filmnya dilakukan oleh Divisi Kreatif. Kita sengaja membagi dua divisi agar kita dapat bekerja sesuai porsi dan fokus pada Jobdesc masing-masing sehingga project yang dikerjakan menghasilkan karya yang bagus.”

Pabrik Film merupakan komunitas yang sedikit berbeda dengan komunitas film lainnya. “Kalau komunitas film yang lain itu biasanya cuma produksi film aja, tetapi kalau Pabrik Film tidak hanya soal produksi, tetapi juga distribusi dan eksibisi (pemutaran film). Kita punya rekanan kerja untuk mebantu project kita, yaitu Bioskop Mandiri. Seperti pada ajang pemutaran film “Valentine”, kita bekerjasama dengan Bioskop Mandiri. Selain menghasilkan 3 film pendek (Omnibus), kita juga melakukan pemutaran film di 9 kota besar di Indonesia.”
Bagi komunitas yang bisa dibilang baru ini, ada berbagai kendala yang dihadapi dalam proses pembuatan film indie, antara lain masalah budget. “Cari sponsor itu susah apalagi untuk membuat film indie. Kita mendapatkan income untuk membuat film biasanya dengan menerima project dari company profile atau wedding tetapi itu bukanlah tujuan utama komunitas ini. Kita gak mau di cap sebagai komunitas yang sifatnya malah mengerjakan project dari klien bukannya independent. Semua itu semata-mata dilakukan agar bisa mendanai pembuatan film pendek kita.” Kendala yang lainnya adalah sebagain besar anggota Pabrik Film adalah orang-orang yang punya basic perfilman dan rata-rata adalah mahasiswa semester akhir yang notabene memiliki masalah waktu, tetapi kita pengen merekrut orang-orang dari luar bidang perfilman karena dari sisi organisasi kami masih belum sempurna jadi membutuhkan orang-orang yang sifatnya bisa me-manage organisasi”, ujar Mas Pandhu.
Nah, buat teman-teman SIJ yang ingin bergabung bisa langsung aja menghubungi coordinator komando Pabrik Film Mas Edo R. Rahman (edo_kuro) 085747870648, Pandhu Adjisurya 08562838620 (@sociohipster). Atau bisa juga lewat twitter @pabrikfilm dan website www.pabrikfilm.org. Jika ingin bertatap muka langsung dengan orang-orang komunitas Pabrik Film bisa datang di Basecamp Kompleks Atmajaya, Blok B No. 2, Mancasan, Condongcatur, Sleman, Yogyakarta.
Terakhir, harapan dari komunitas Pabrik Film adalah bisa menghasilkan bentuk film yang dapat menginspirasi dan dinikmati secara luas. “Kami juga membutuhkan apresiasi dan pengakuan dari karya-karya kami, caranya dengan menonton film pendek karya kami pada acara pemutaran film lewat Bioskop Mandiri.”
Narasumber: Pandhu Adjisurya (@sociohipster) dan Rusdian Yazid
Kontibutor Study In Jogja : Elita Yunanda (@elitayuna)

Posted on Sunday, May 03, 2015 by Unknown

No comments



Jazz Mben Senen ini bahasa jawanya artinya Jazz Tiap Senin. Acara Jazz  Mben Senen  atau jazz setiap Senin adalah agenda pentas musik yang rutin diselenggarakan setiap hari Senin yang digelar di halaman Bentara Budaya Yogyakarta. Jazz Mben Senen adalah suatu kegiatan yang berfungsi sebagai sarana apresiasi para pecinta Jazz.
Jazz Mben Senen beraktifitas rutin sejak tahun 2000 yang awalnya hanya nongkrog bareng main music di cafe.  Hingga ada gagasan agar tidak berpencaran satu sama lain maka di jadikan satu waktu khusus untuk berkumpul yaitu tiap hari Senin.
Nama Jazz Mben Senen di bentuk mulai tahun 2009. Semenjak tahun 1999 terselenggara kegiatan Jazz Gayeng yang memepersembahkan semacam acara festival untuk menampung dan mengembangkan musik Jazz di Yogyakarta. Salah satu anggota Jazz Mben Senen, Gilang menjelaskan jika Jazz Mben Senen dimulai dari acara jazz on the street yang sudah terselenggara pada awal bulan Maret 2003. Gagasan yang diprakarsai oleh Agung Prasetyo ( Jogja Jazz Club / pimpinan festival Jazz Gayeng ). Dimana secara resmi nama “Jazz on The Street” disepakati menjadi nama dari kegiatan ini pada bulan April 2007. Lalu diadakan secara rutin setiap satu bulan sekali, khususnya pada hari sabtu minggu pertama.


Setelah berjalan selama 2 tahun (2007-2009), “Jazz Mben Senen” yang biasa diadakan di Benthara Budaya (utara telkom, kota baru). Acara ini diadakan setiap hari senin dimulai dari jam 19.00 – selesai. Di sini kita bisa bercanda, dan berkomunikasi ala Jazz.“Jadi yang perform disana boleh siapa saja, yang punya skill buat di tunjukkin, silahkan perform di JazzMbenSenen mulai dari pukul 19.00 – 00.00 WIB.” ungkap Gilang.
Kegiatan rutin ada mingguan, belajar bareng tiap hari senin dan rabu , kemudian bulanan, main bareng di jalanan sesuai kesepakatan bersama, serta tahunan, acara tiap bulan November  Ngayogjazz. Selain bermain music juga ada kegiatan social, bahkan renang bareng, basket, pokoknya seru-seruan bareng. Untuk menjaga kesolidan di JazzMbenSenen ini justru di bebaskan buat temen – temen sendiri, tidak ada keterikatan. Terbukti dari tahun 2009 – 2012 sejauh ini acara tidak pernah bolong. Hanya pada saat musibah Merapi dan saat lebaran saja aktifitas libur.
“Untuk anggota selama ini tidak di hitung terperinci. Tapi yang aktif ada 20 – 30 orang. Pemain JazzMbenSenen bisa siapa saja dalam artian tidak harus orang yang mahir dalam music. Tetapi JazzMbenSenen juga bisa menampilkan yang bisa menari, pantomim, futsal, basket, dll. Selain itu di sini justru di dahulukan buat temen – temen yang jarang ngejam bareng, mungkin karena rumahnya jauh atau sibuk dengan kuliah maupun sekolah.” tambah pemuda dengan perawakan sedang ini.
Buat temen -  temen yang ingin gabung caranya gampang dan tidak harus bisa music. Langsung datang saja tiap hari senin atau bisa lewat twitter @jazzmbensenen. Harapan kedepannya semoga JazzMbenSenen tetap ada terus dan bisa berkembang.
Tunggu apa lagi temen – temen, gabung dan segera dapatin jazz gratis dan lesehan. Jogja Memang Istimewaa.
Kontributor Study In Jogja : Ispi Setiawati

Posted on Sunday, May 03, 2015 by Unknown

No comments

Komunitas

Ubuntu adalah sistem operasi lengkap berbasis Linux, tersedia secara bebas dan mempunyai dukungan baik yang berasal dari komunitas maupun tenaga ahli profesional. Ubuntu sendiri dikembangkan oleh komunitas sukarelawan, begitupun di Yogyakarta ini. Di Yogyakarta sejak tahun 2007, Komunitas Ubuntu Jogja hadir untuk mengenalkan open sources.
“Sebenarnya  Ubuntu itu bukan organisasi yang padat. Jadi kita memang punya ketua, punya bendahara, punya sekertaris dan sebagainya, tapi sebenarnya itu hanya sekedar organisasi saja. Karena komunitas ini kan non profit dan berbasis hobi.  Prinsipnya ketika ada event ya siapa pun yang nantinya handling dalam sebuah acara atau event, dialah yang tanggungjawab dan jadi komandan. Sebagai contoh salah satu kegiatan kita itukan adalah advokasi, edukasi, sosialisasi. Waktu itu ada event dan kita mau bagi – bagi stiker di pameran komputer, yang bisa bagi stiker cuma 2 orang Radit dan Iqbal, ya sudah mereka yang jalan, mereka tidak menggunakan nama pribadi tapi menggunakan nama Ubuntu.” Ungkap Dedy, Humas Ubuntu Jogja.
Teman – teman yang ada di Ubuntu ini menyukai linux karena untuk mendapatkan free softwarenya mudah, contoh kalau di UGM ada web yang menyediakan software – software linux di repo.ugm.ac.id. Selain mudah, aplikasinya juga legal. Memang rata – rata kita kan biasanya sewa CD, katakanlah kalau di daerah jogja itu di Jalan Kaliurang atau Moses Gathotkaca. Sebenarnya yang kita sewa itu kan melanggar hukum, karena rata – rata kan sistem operasi lain itu berbayar bukan sewa sebenarnya.
Menurut Dedy, tujuan Ubuntu Jogja sebenarnya, jangan sampai citra negara kita dikira negara pembajak. Jadi kalau kita mikirnya pakai dululah produk yang legal, yang tidak terlalu mahal bahkan mungkin yang free. Pelan – pelan dari kita pake software free, kita nabung buat beli software yang memang berbayar. Padahal kita tahu negara kita itu negara yang berdaulat, tolong menolong, saling menghargai tapi kok sepertinya itu tidak terjadi. Prinsip kita adalah berbagi.
Komunitas yang memang secara mendadak mengadakan acar baik mingguan atau bulanan ini tetap mempunyai acara rutin setiap 6 bulan sekali, yaitu antara bulan Mei Juni dan Oktober November. Komunittas yang juga sedang menunggu keputusan dari Ubuntu Pusat, yaitu mulai tahun 2013, Komunitas ubuntu Jogja lebih akan solid. Nantinya ketika ditanya kumpulnya dimana, kontaknya siapa, ini Ubuntu Jogja sudah fix ada.
Dedy menjelaskan sampai saat ini totalnya member itu sekitar 20 – 30 tapi itu bener – bener kita seleksi ya, tapi di tahun 2013 kita akan lebih welcome buat menerima yang mau gabung. Ubuntu Jogja juga unik, yaitu keanggotaannya, tidak semuanya pelaku IT. Ada yang basicnya pertanian, ada yang asalnya di NGO bergerak di bidang sanitasi, dan sebagainya.
Saat ini target Ubuntu Jogja jangka pendek adalah advokasi, edukasi dan sosialisasi dan kalo bisa akan membuka konsultasi. Sebagai contoh untuk politik jika kita menggunakan software yang sifatnya tertutup, kita kan tidak tahu didalamnya ada apa. Padahal data – data pemerintah itu termasuk data yang vital. Jadi dengan menggunakan free open source, kode kita itu akan terbuka. Misalnya : Ubuntu Jogja itu dipasangin suatu hal yang bisa dimencuri data, itu nanti seluruh dunia akan tahu. Kalau di level masyarakat, kita bisa lebih mandiri tidak tergantung software.
“Ubuntu” berasal dari bahasa kuno Afrika, yang berarti “rasa perikemanusian terhadap sesama manusia”. Ubuntu juga bisa berarti “aku adalah aku karena keberadaan kita semua”. Tujuan dari distribusi Linux Ubuntu adalah membawa semangat yang terkandung di dalam Ubuntu ke dalam dunia perangkat lunak. Untuk yang mau update dan bergabung di Komunitas Ubuntu Jogja bisa langsung lewat twitter di ubuntu_id atau fan pages di Komunitas Ubuntu Indonesia.
Study In Jogja : Karina Erika

Posted on Sunday, May 03, 2015 by Unknown

No comments